Menikah merupakan impian semua kaum hawa. Karena menikah adalah kodrat
manusia yang tak lengkap jika tak dijalaninya. Aku juga percaya kalau menikah
juga menjadi gerbang bagi seorang perempuan untuk memasuki dunia baru. Dunia
yang dipenuhi dengan tanggungjawab. Bukan hanya tanggungjawab bagi diri
sendiri, tapi tanggungjawab bagi suami, dan tanggungjawab kepada Tuhanku. Dan
tentunya, pelimpahan tanggungjawab.
Dulu, ketika masih gadis, seorang perempuan menjadi tanggungjawab sang
ayah. Dengan menikah, limpahan tanggungjawab itu beralih kepada sang suami.
Sunggu pelimpahan tanggungjawab yang tidak sepele. Karena ayahku menyerahkan
tanggungjawab besar kepada lelaki lain yang hanya dikenal hanya dalam hitungan
bulan. Terkadang tak bisa dilogika, tetapi itu bisa dirasa.
"Kobiltu nikaha watajwijaha, bil maghril mazkuri khalan...."
demikian ucapan yang diucapkan oleh seorang pria yang kini menjadi suamiku.
Sejak itulah, hidupku bukan lagi untuk ayah dan ibuku, tetapi hidupmu milik
suamiku. Suami yang pernah aku menemuiku di dalam mimpiku, ketika aku masih
menjadi santriwati Umi Azza di Pondok Pesantren Lirboyo.
Ketika menikah, usiaku sudah sangat matang. Mungkin sebagian orang akan
melihatnya justru terlalu matang. Aku menyadarinya. Tapi aku percaya, Allah akan mengirimkan
seorang lelaki terbaik menurut Allah kepadaku. Setelah perkenalan setahun
lamanya, tanpa pernah pacaran, pernah mengalami lika liku dari kegalauan menuju
keyakinan, aku menjalani sebagai sebuah jalan kehidupan.
Selepas menikah, aku meninggalkan desa kelahiranku di kaki Gunung Slamet
menuju ibukota. Itu untuk keempat kalinya aku meninggalkan rumah. Namun,
sebelumnya aku meninggalkan rumah untuk mondok atau belajar agama di pondok
pesantren, pertama di Brebes, kedua di Purwokerto, dan ketiga di Lirboyo,
Kediri. Sama seperti dulu, aku yakin dengan hijrahku ini, Allah akan memberikan
jalan terbaik bagiku.
Selama menjadi santri di Lirboyo, aku memiliki cita cita besar unyuk
menjadi seorang desainer. Cita cita itu terlalu besar, mungkin terlaku tinggi.
Tapi, Ummi Azza, guru ngajiku di Pondok Pesantren, Lirboyo, selalu mengajarkan
kalau seorang perempuan harus memiliki cita cita. Cita itu berbeda dengan
mimpi. Kalau cita itu itu harus menjadi realita dengan ijin Allah. Tapi, mimpi
bisa hanya sekedar keinginan dan kenangan.
"Kalian harus memiliki cita cita besar. Apa saja. Tapi kalian harus
memiliki cita cita wajib, yakni menjadi guru. Minimal guru untuk anakmu, kalau
bisa menjadi guru bagi lingkunganmu. Insha Allah, hidupmu akan dipenuhi
keberkahan," petuah Ummi Azza di depan ratusan santrinya. Sejak saat
itulah, aku menyusun cita citaku wajibku untuk menjadi seorang guru. Tapi bukan
hanya itu. “Bagi seorang perempuan, juga harus memiliki cita-cita sunnah, yakni
menjadi apapun asal bisa bermanfaat, bagi orang di sekitarmu. Apapun itu, bisa
menjadi seorang dokter, perawat atau apapun. Tapi tidak boleh meninggalkan
kodrat perempuan yaitu menjadi seorang guru,” jelas Ummi Azza. Sejak saat itu,
aku memantapkan diri agar aku berusaha sekuat tenang untuk menjadi desainer.
Setapak demi setapak aku memulai menatapi cita-citaku. Meskipun, itu masih
sangat jauh. Selain mengaji di pondok, aku juga belajar menjahit dan menyulam.
Meskipun tidak sampai mahir, aku yakin iyu menjadi bekalku setelah lulus dari
pondok. Sayang, selepas tujuh tahun menimba ilmu di pondok, aku hanya membantu
ibuku berjualan di pasar. Selama tiga tahun mengabdi kepada ayah dan ibuku, ilmu
menjahit dan desainku tak dipakai. Namun demikian, aku masih yakin dengan cita
citaku dulu akan terbantu dan didengar oleh Allah.
Hidup di rumah baru, dengan baru, menjadikan hidupku seperti baru. Kebaruan
iyu membuatku harus berpikir ulang, tentang sesuatu aktjvitas yang baru.
Suamiku pernaha bertanya mengenai cita citaku. Dia ingin membantu mewujudkan
cita citaku yang telah lama terbengkalai. Ya, cita cita menjadi desainer.
Aku tak teralu merespon banyak
ketika suamiku bercerita tentang cita citaku. Akunjuga tak berharap banyak
terjadap suamiku untuk membantuku unyuk memulai dan mengawali cita citaku.
Namun, aku merasakan kalau suamiku memang menginginkan aku segera untuk
mewujudkan cita citaku.
"Kamu mau sekolah desain? Aku punya kenalan orang yang mengelola
kursus desain," Tanya suamiku setelah dia pulang kantor.
Aku menggelengkan kepala.
"Kalau begitu, kamu ingin kursus menjahit? Di dekat rumah, ada tempat
kursus terkenal kok," tawar suamiku.
Aku kembali menggelengkan kepala. Mungkin suamiku memang tidak mengetahui
kalau aku memang memiliki kemampuan untuk menjahit dan mendesain. Meskipun
masih pemula. Maklum, hanya belajar sedikit di pondok saja.
"Kalau begitu, besok pagi ikut mas saja," ajak suamiku.
Jumat pagi, tepat Jumat Kliwon, selepas subuh, dengan menggunakan sepeda
motor matik, aku dan suamiku meluncur pagi pagi. Dia sudah bilanb, kalau ingin
memberikan kejutan. Kata dia, kejutan itu aku sendiri yang memilihnya. Baik
merek dan harganya. Cuma dia memberikan kisaran, "tidak boleh lebih dari
empat juta."
Jalana pagi tidak terkalu macet.
Kami sempat beristirahat di Masjid Sunda Kelapa, untuk melepaz lelah dan
mengisi perut. Bersenda gurau dan selalu tertawa bersama. Hingga kami puas
melepas tawa, perjalanan di lanjutkan ke wilayah Kota Tua. Ternyata suamiku
mengarahkan motor ke arah Wilayah Pangeran Jaya Karta. Motor berhenti di sebuah
toko.
"Aneka Mesin Jahit", demikian tulisan terpampang di depan toko
itu. Aku langsung memukul ringan pungung suamiku. Aku juga mencubit pipinya
yang cubby. Dalam hatiku, kejutan suamiku ternyata sesuai dengan doa dan
harapanku.
Kamu mau beli Singer?" tanya suamiku.
Ternyata, di toko yang dimilik oleh pria berkcamata itu terdapat merek
kesukaanku, Jaguar. Sekilas memang seperti merek mobil. Tapi bukan. Iyu merek
mesin jahit. Namun, aku tak mengutarakan mesin jahit favoritku kepada suamiku.
Aku malu.
Setelah mencoba berbagai mesin jahit, mulai dari mereka Singer, Butterfly
hongga Jaguar, suamiku hanya diam. Dia memang tak paham. Dia sepertinya merasa
sangat heran ketika aku menanyakan banyak hal tentang berbagai kualifikasi
mesin jahit.
Suamiku menarik tanganku. Si bapak penjual mesin jahit dan putrinya pun
memberikan kesempatan kepadaku dan suamiku bermusyawarah. Maklum, harga mesin
jahit bukan ratusan ribu, tetapi jutaan. Dibutuhkan komunikasi intensif dan
tepat sasaran.
"Bunda paham banget mesin jahit sih, kok ga bilang bilang ama
mas," tanya suamiku.
"Mas sendiri ga tanya," jawabku.
"Terus pilih yang mana?"
"Terserah Mas."
"Serahkan pada ahlinya."
"Aku pilih favoritnya bunda."
"Harganya juga lebjh murah dibandingkan yanb populer itu."
"Aku serahkan pada ahlinya."
Ternyata mesin jahit berukuran cukup besar. Aku kasihan pada suamiku.
Ketika membawa pulang mesin jahit, ternyata cukup sulit. Suamiku terpaksa
terlalu ujung di jok, sehingga dia cukup kesulitan saat mengendarai sepeda
motor.
"Latihan jadi suami seorang desainer ternama," guyon suamiku
sambil tertawa lepas ketika kesulitan membelokkan arah sepeda motor di depan
stasiun kota tua Jakarta. Aku hanya tersenyum mendengar guyonan suaiku saja.
Ketika bokongku sudah sangat panas, ternyata ketik aku memegang bokong suamiku,
ternyata lebih panas. Aku mencubit bokongnya yang tebal. Dia hanya tersenyum.
"Sudah mirip jadi pengusaha konveksi belum?" guyon suamiku lagi.
Dia mencubit pahaku berulang kali. Tetapi aku hanya tersenyum saja.
Awal dari cita-cita menjadi desainer telah terwujud. Berawal dari mesin
jahit. Ternyata, suamiku mengajakku ke toko buku. Kesamaanku dengan suamiku
adalah membaca novel. Tapi ketika di toko buku, bukan novel yang dituju, tetapi
rak buku ketrampilan.
"Coba beli buku menjahit untuk pemula. Biar belajar otodidak,"
ajak suamiku. Aku hanya diam saja. Aku tak banyak merespon. Namun, aku memilih
dan menmbaca beberapa buku ketrampilan. Dikarenakan suami memaksa membeli buku,
aku pun membelinya. Dengan harapan, menyenangkan suami dan menambah pengetahuan.
Beberapa bahan yang ada di lemari suami aku berusaha jahit dengan mesin
jahit baru. Aku juga membeli bahan kaos untuk membuat baju buat keponakan.
Semuanya hanya coba-coba. Ternyata cukup sulit juga mendesain dan menjahit.
Tapi semuanya harus dimulai.
Suamiku merasa heran ketika buku tentang desain dan menjahit yang dibeli
ternyata tak banyak dibaca. Dia juga heran ketiak rumah mungil kami dipenuhi
berbagai sobekan baju dan serpihan benang yang berserakan di lantai.
"Oooo bunda ternyata sudah bisa menjahit? Sudah bisa mendesain
baju?" Tanya suamiku dengan penuh keheranan.
"Bunda belum mahir. Masih belajar kok," belaku.
"Kalau ada rezeki, kita beli ruko. Nanti buka Opiep Mustaqim Collection."
"Apaan itu mas?"
“Semacam butik begitulah..."
“Kok Mas tahu keinginanku sih?”
“Ya iyalah...”
Aku terheran-heran dengan dukungan suamiku itu. Saat itu, aku sudah
menemukan brand untuk pakaian yang aku buat. Namanya, Opiep Mustaqim Collection.
Aku kira, namaku cukup menjual untuk
dijadikan brand produk fasyenku. Meskipun, aku tak menggunakan nama asliku
sendiri. Aku hanya menggunakan nama panggilanku.
Selain itu, suamiku juga berulang kali menawari untuk melaksanakan
cita-cita wajibku menjadi guru. Berulang kali, dia menawari apakah mau menjadi
guru mengaji di sekolah di depan komplek dan pondok pesantren yang berjarak
hanya empat kilomeeter, tapi aku tolak.
“Aku ingin mandiri...,” bisikku halus kepada suamiku.
Suami bercita-cita mendirikan sekolah. Ketika suamiku belum memulainya, aku
sudah mengawalinya. Walaupun seminggu sekali. Aku tahu, suamiku masih tersita
waktunya dengan urusan kantor dan kampus. Sekolah Opiep Mustaqim, atau lazim
dikenal dengan nama SOM. Itulah nama sekolahku.
Berawal dari pendidikan baca tulis ayat Al Quran, aku mulai. Pesertanya
adalah anak-anak perempuan di kompleks rumah. Jumlah sedikit. Tapi cukup
menyenangkan. Namun, hanya semingggu sekali. Tepatnya setiap Jumat malam
selepas shalat Maghrib.
Aku percaya, dengan mengawali dari rumah, maka cita-citaku itu akan
pelan-pelan terwujud. Tentunya jika Tuhan juga berkendak.
Aku selalu teringat omongan suamiku saat menjelang tidur pada suatu hari
lalu, "bercita-citalah, untuk mencambuk kita menggapainya." Tuhan
memberikan suami terbaik untukku yang mampu mengarah dan membimbing
cita-citaku. Aku juga ingin membantu mewujudkan cita-cita suamiku, mendirikan
sekolah internasional berbasis relegiusitas.
"Andaikan Tuhan memberikan rezeki untuk membeli rumah, aku ingin
jadikan rumah itu sebagai sekolah perintis," kataku. Suamiku mendengar
doaku. Dia hanya mengangguk. "Insha Allah, doamu dikabulkan segera,"
kata suamiku.